Teori Piaget

Jean Piaget dengan teori perkembangan kognitif (long-term development) memiliki pengaruh yang kuat tentang cara bagaimana individu belajar dan proses berkelanjutan dari kontruksi pengetahuannya. Hal ini dapat diaplikasikan dalam disiplin ilmu matematika, sebab konsep matematika dibangun dengan adanya salimg keterkaitan serta intertwine dan teori Piaget memberikan langkah melalui proses yang terjadi (Reedal, 2010).

Fokus dari teori Piaget pada ide konstruktivis di mana pembelajaran dikontruksi dari pengalaman dan koneksi setiap siswa dari konsep yang dipelajari sebelumnya dan dengan ide-ide baru. Menurut Piaget setiap tahap perkembangan setiap individu berbeda tergantung pda masing-masing sehinggan setiap anak seharusnya menjadi partisipan yang aktif dalam proses pembelajaran.

Piaget mengidentifikasi empat tahap perkembangan kognitif yang dilalui semua siswa, yaitu:

1. Tahap Sensorimotor

Tahap awal ini terjadi pada anak usia kelahiran sampai dengan 2 tahuan. Pada tahap ini siswa belajar menggunakan indera perasa dan membutuhkan pengalaman konkret untuk memahami konsep dan ide. Anak masih memiliki egosentrik dan hanya dapat melihat dunia dari persepsi pribadi.

Bagaimana tahap sensorimotor diaplikasikan dalam matematika, dapat dilihat bagaimana pembelajaran berkembang, di mana anak dapat menemukan objek dari pandangan mereka. Piaget mendemonstrasikan melalui eksperimen dengan memindahkan objek di bawah bantal dan anak dapat menemukan secara tepat objek. Hal ini mengilustrasikan mereka mengetahuai objek masih ada meskipun mereka tidak bisa melihat.

Aplikasi tahap ini pada konsep korespondensi satu-satu. Anak dapat mencocokkan satu objek pada satu orang, akan tetapi anak belum dapat mencocokkan bilangan dengan objek.

2. Tahap Praoperasional

Tahap kedua terjadi sepanjang anak usia 2 sampai dengan 7 tahun. Sepanjang periode ini,anak dapat melakukan masalah logis satu-langkah dan melengkapi operasi seperti penjumlahan dan pengurangan. Pemecahan masalah logis satu-langkah masih terbatas pada materi yang konkret atau visual representasi yaitu satu dimensi.

3. Tahap Operasi Konkret

Tahap ketiga terjadi pada anak usia 7 sampai sebelas tahun. Anak akan dapat berpikir secara logis dan mulai mengelompokkan didasarkan pada beberapa gambaran dan karakteristik. Anak sudah dapat mempertimbangkan dimensi 2 dan 3. Jika sebelumnya anak terbatas pada pandangan mereka, namun tahap ini anak dapat memiliki perspektif lain. Untuk mengembangkan kemampuan anak berupa sajian multipel solusi, diskusi di kelas dapat sangat membantu mereka. Pengalaman berbagi solusi ini dapat membantu siswa dalam membangun ide, jadi tidak selalu ada satu cara tepat untuk setiap masalah, hal tersbeut mungkin ada banyak cara yang merupakan solusi benar. Anak dalam tahap ini akan memiliki keterampilan membuat observasi dasar dan pengukruan yang dapat meningkatan cara mereka mengklasifikasikan objek/situasi.

Pada tahap ini konsep korepondensi satu-satu dapat berkembang. Mereka sudah dapat membedakan korespondensi satu-satu dan fungsi.

4. Tahap Operasi Formal

Tahap terakhir ini terjadi pada anak usia 11 sampai 17 tahun dan berlanjut sampai dewasa. Perbedaan yang menandai perubahan berpikir anak adalah lebih logis pada proses berpikir abstrak. Pada tahap ini anak tidak membutuhkan pengalaman konkret, namun hipotesis dan memutuskan kemungkinan konsekuensi dari melihat situasi dengan perspektif berbeda. Sejak anak memahami konsep abstark, mereka dapat memperkirakan luas di bawah kurva yang tidak didasarkan [ada pengalaman konkret. Mereka juga mulai berpikir tentang konsep ketidakhinggaan dan memahami bagaimana memperkirakan barisan infinit konvergen pada.

Piaget (Tall, 2007) membedakan dua bentuk berbeda dari abstraksi: abstraksi empiris dari sifat objek itu sendiri dan abstraksi pseudo-empiris dengan memfokuskan pada sifat yang muncul dari tindakan pada objek, yang memandu pada bentuk abstraksi ketiga yang didasarkan pada aksi mental yang diistilahkan dengan abstraksi reflektif.

Piaget adalah seorang psikolog pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme dalam proses belajar. Ia menyatakan bahwa teori pengetahuan itu pada dasarnya adalah teori adaptasi ke dalam suatu realita, seperti organisme beradaptasi ke dalam lingkungannya (Suparno, 1997: 30). Adaptasi menurut Piaget merupakan suatu keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi.

Asimilasi adalah penyerapan informasi baru ke dalam pikiran, sedangkan akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi itu punya tempat (Ruseffendi, 1991: 133). Keseimbangan proses asimilasi dan akomodasi pada anak terjadi jika setiap informasi baru yang disampaikan kepada anak itu dapat dijangkau oleh anak di dalam otaknya, baik informasi itu menjadi pengetahuan yang benar-benar baru ataupun bersifat penambahan dari informasi yang sudah ada. Sehingga anak belajar dengan kemampuan membangun sendiri pengetahuan dan bukan hanya menghafal.

Adapun beberapa istilah yang digunakan dalam teori Piaget untuk menjelaskan proses seseorang memperoleh pengetahuan (Suparno, 1997: 30) dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Skemata, adalah struktur mental dimana seseorang secara intelektual beradaptasi dan berkoordinasi dengan lingkungannya. Dalam perkembangan mental anak, skemata akan berubah dan beradaptasi. Makin baik kualitas skemata ini, makin baik pula pola penalaran anak tersebut. Proses yang mempengaruhi perkembangan skemata adalah asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi.
  2. Asimilasi, adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep, ataupun pengalaman baru ke dalam skemata yang sudah ada di dalam pikirannya. Dengan assimilasi, skemata yang telah ada dalam pikiran seseorang dicocokkan dengan rangsangan yang didapatnya. Assimilasi tidak menyebabkan perubahan atau pergantian schemata, melainkan perkembangan skemata yang telah ada.
  3. Akomodasi, adalah proses pengintegrasian rangsangan baru ke dalam skemata yang telah terbentuk. Seseorang akan mengadakan akomodasi melalui pembentukan skemata baru yang cocok dengan rangsangan baru atau memodifikasi skemata yang ada sehingga cocok dengan rangsangan baru.
  4. Equilibrasi, adalah proses keseimbangan antara assimilasi dan akomodasi. Apabila dalam proses assimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya, maka terjadilah disequilibrium (ketidakseimbangan). Bila terjadi ketidakseimbangan, maka seseorang dipacu untuk mencari keseimbangan dengan jalan assimilasi dan akomodasi.

Dalam hendaknya siswa diberi kesempatan untuk dapat memproses pengetahuan dengan  jalan berinteraksi dalam lingkungannya, siswa diberi kebebasan untuk membangun pengetahuannya sendiri, dan guru memainkan peranannya sebagai fasilitator.

Tentang ifada

Belajar untuk lebih baik lagi..
Pos ini dipublikasikan di Teori-teori Belajar. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s